Lo pikir skena keras kita butuh satu lagi band yang cuma hidup dari nostalgia? Salah besar.
Warthog baru saja melempar Rock N Roll 50 ke muka kita semua—bukan sebagai tribute manis ke masa lalu, tapi sebagai tamparan cepat, padat, dan tanpa basa-basi. Ini bukan album yang minta dipahami. Ini album yang minta diputar kencang dan dirasakan di dada.
Dan percayalah, ini bukan sekadar throwback. Ini preservasi. Ini sikap.
Cepat. Liar. Lebih Cepat dan Liar Lagi.
Dari awal, Warthog nggak pernah duduk bareng dan bilang, “Oke, kita bikin album old-school crossover thrash-punk.” Sound itu datang natural. Mengalir. Organik.
Perbedaan influence tiap member—yang bahkan bisa dibilang hampir tabrakan—justru jadi bahan bakar. Hasilnya? Ledakan crossover thrash-punk rasa 90–2000an yang mentah tapi matang secara identitas.
Nggak ada tema besar yang dipaksakan dalam Rock N Roll 50. Ini bukan album konseptual yang ribet. Ini adalah preservasi musik era yang membentuk mereka. Era kaset diputar sampai kusut. Era moshing tanpa kamera HP. Era ketika musik keras benar-benar keras.
Kalau harus dirangkum dalam tiga kata?
“Cepat. Liar. Lebih cepat dan liar lagi.”
Dan mereka ketawa setelah bilang itu. Tapi kita tahu, mereka serius.

Workshop Sabtu, Tanpa Ego, Tanpa Diktator
Proses kreatif Warthog nggak elitis. Nggak ada satu figur dominan yang merasa paling visioner. Ide bisa datang dari mana saja—potongan riff, lirik setengah jadi, bahkan obrolan random soal hidup.
Setiap Sabtu, mereka kumpul di studio/basecamp. Workshop rutin. Disiplin. Komunal. Semua kontribusi. Semua kebagian ruang.
Final arrangement? Biasanya di tangan Miko (drummer). Tapi bukan berarti yang lain cuma numpang lewat. Ini kerja kolektif. Ini band, bukan proyek solo berkedok kolektif.
Soal lagu paling challenging? Menariknya, mereka nggak melihat tempo cepat sebagai tantangan. Hampir semua katalog Warthog memang ngebut. Uptempo bukan beban. Itu habitat.
Ini Identitas, Bukan Tribute
Sound Rock N Roll 50 dikenal cepat, padat, agresif. Tapi jangan salah baca.
Ini bukan tribute ke era rock lama. Ini bukan cosplay musik 90an. Semua personel Warthog adalah generasi X yang tumbuh di era 80, 90, dan 2000. Ini bukan mereka menengok ke belakang. Ini mereka berbicara dengan bahasa yang memang mereka hidupi sejak awal.
Ada perbedaan besar antara nostalgia dan identitas. Warthog jelas berdiri di sisi identitas.
Dan itu terasa. Nggak dibuat-buat. Nggak dipoles agar terdengar “retro”. Mereka memang seperti ini.

Mini Tour, Video Klip, dan Ambisi Jadi Wajah Baru
Setelah rilis, mereka nggak mau cuma duduk manis nunggu review.
Mini tour sudah disiapkan. Kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surakarta (Solo) masuk radar awal. Kota lain? TBA. Siap-siap.
Video klip untuk lagu “Berandalan” juga sedang dalam proses. Judulnya saja sudah cukup menjelaskan energi yang akan mereka lempar ke layar.
Target mereka jelas: Rock N Roll 50 harus jadi wajah baru di skena musik keras Indonesia. Bukan sekadar tambahan katalog. Tapi statement.
Dan kalau melihat konsistensi serta attitude mereka, ambisi itu terdengar realistis.
Lirik: Pahit, Nyata, Tapi Tetap Jalan
Secara lirik, Rock N Roll 50 nggak berusaha jadi guru kehidupan. Inspirasi datang dari keseharian. Realita yang pahit. Kenyataan yang kadang negatif.
Tapi di balik itu, ada semacam pengingat:
Hidup memang keras. Tapi ya jalanin saja. Dengan positif. Tantangan selalu bisa dilewati.
Sederhana? Iya. Klise? Mungkin buat yang terlalu sinis. Tapi dalam konteks musik yang menghantam seperti ini, pesan itu justru terasa jujur.
Nggak dramatis. Nggak sok filosofis.
Real.

Rock N Roll 50 Adalah Alarm untuk Skena
Di tengah derasnya produksi musik yang terlalu aman, terlalu steril, Warthog Rock N Roll 50 datang seperti alarm keras jam 5 pagi—mengganggu, tapi perlu.
Ini album yang nggak berusaha menyenangkan semua orang. Dan mungkin itu justru kekuatannya.
Buat lo yang besar dengan riff cepat, drum menghajar, dan energi panggung yang nggak bisa dipalsukan—album ini bukan nostalgia.
Ini rumah.
Dan Warthog baru saja membuka pintunya lebar-lebar.