Di skena musik underground, luka bukan buat disembuhin—tapi buat disuarain. Dan itulah yang dilakukan Helena and The Blackstones lewat album Morning Star underground mereka yang bertajuk The Story of Morning Star.
Album ini bukan tentang cinta yang berhasil. Justru sebaliknya: tentang kekecewaan, ilusi, dan kelelahan hati saat harapan ternyata nggak seindah bayangan.
“Sakit hati yang begitu dalam dan nggak bisa diobatin sama apa pun.”
Kalimat itu jadi rangkuman paling jujur dari album ini. Tanpa filter. Tanpa drama palsu.
Helena and The Blackstones & Filosofi Kekacauan Emosi
Helena and The Blackstones adalah band Rock, Metal, dan Electro asal Jakarta yang mengangkat filosofi tentang kekacauan percintaan, ilusi kehidupan, dan pergulatan batin manusia modern. Buat mereka, musik adalah bahasa universal untuk menuang isi hati, emosi, dan realitas hidup yang sering kali jauh dari kata ideal BIOGRAFI Helena and the Blackst….
Band ini resmi terbentuk pada 11 September 2023, setelah berevolusi dari proyek sebelumnya yang berakar di Electro Core. Dari sana, mereka mulai bereksperimen, menyatukan Rock, Metal, dan Electro untuk menciptakan warna musik yang lebih relevan dengan era sekarang.
Dan album Morning Star underground ini adalah puncak dari proses pencarian tersebut.
Morning Star: Cahaya yang Nggak Selalu Baik
Kalau biasanya Morning Star identik sama cahaya dan harapan, di album ini artinya dipelintir habis-habisan.
Morning Star digambarkan sebagai sosok pria yang awalnya green flag: baik, tenang, soft spoken. Tapi begitu hatinya dikecewain, semuanya berubah. Cahaya itu jadi gelap. Kebaikan berubah jadi amarah.
Di sinilah album ini berdiri—di titik ketika cinta nggak lagi romantis, tapi jadi pemicu pemberontakan.
Album ini lahir dari hati yang penuh amarah, kehilangan sandaran hidup, dan kondisi mental yang nggak stabil. Jujur, manusiawi, dan sangat relate.
Distorsi + Electro = Chaos yang Masih Punya Jiwa
Secara musikal, album Morning Star underground ini bermain di ranah Rock, Metal, dan Electro. Kombinasi yang rawan jadi bising nggak jelas kalau salah langkah.
Tapi Helena and The Blackstones paham satu hal: brutal tanpa jiwa cuma bakal jadi noise.
Distorsi dibungkus dengan sentuhan electro buat “nambal” kebisingan, bukan buat memperhalus. Hasilnya? Musik tetap keras, tapi emosinya nyampe. Bahkan, di beberapa bagian, justru terasa syahdu di tengah chaos.
Momen paling krusial di proses produksi album ini adalah saat semua genre akhirnya dikunci ke satu arah. Keputusan paling nekat? Masukin electro ke dalam distorsi keras—dan menjadikannya identitas utama band.
“Broken”: Dua Cara Menghadapi Kehancuran
Kalau disuruh nunjuk lagu paling rapuh di album Morning Star underground, jawabannya jelas: “Broken.”
Lagu ini ngomongin tekanan hidup, keterpaksaan nerima takdir, dan rasa pengin berhenti di garis akhir.
“Broken” hadir dalam dua versi:
- Versi keras → suara orang yang hancur dan marah
- Versi akustik → suara orang yang sama, tapi udah capek dan akhirnya nerima kenyataan
Satu luka, dua respon emosi.
Lirik yang Masih Perih Sampai Sekarang
Beberapa lagu di album ini lahir dari pengalaman nyata dan masih kerasa nyeseknya sampai sekarang. Salah satunya “I’m With You.”
Lagu ini cerita soal ketidakrelaan—saat sesuatu yang pernah kita punya, pelan-pelan lepas, dan akhirnya dimiliki orang lain. Simple, tapi nusuk.
Bukan Cuma Buat Satu Generasi
Lewat album Morning Star underground, Helena and The Blackstones pengin ngerusak sekat. Album ini dibuat supaya bisa dinikmati lintas usia dan latar belakang. Ada rasa klasik, ada sentuhan modern, semuanya nyatu.
Hasil akhirnya adalah warna musik yang jarang ditemuin. Agak bikin bingung, tapi justru itu yang bikin nagih.
Kalau pendengar cuma boleh bawa pulang satu perasaan setelah dengerin album ini?
Takjub—dan sedikit bingung.