22 Februari 2026 Bukan Sekadar Tanggal — Itu Pernyataan Sikap
Berhenti menyalahkan elit. Itu terlalu mudah.
Lewat launching album terbaru mereka pada 22 Februari 2026 di seluruh platform digital, PETANI GILA tidak datang membawa hiburan yang aman. Mereka datang membawa tuduhan. Membawa cermin. Membawa tamparan keras bertajuk Dosa Kolektif.
Ini bukan album yang berdiri di luar sistem sambil menunjuk. Ini album yang masuk ke dalam kepala kita — lalu berbisik: kita semua terlibat.
Dosa Kolektif: Penindasan Butuh Persetujuan
Dalam narasi besar album ini, PETANI GILA menggarisbawahi satu hal yang tidak nyaman: penindasan tidak akan pernah bertahan tanpa persetujuan diam-diam.
Kehancuran hari ini bukan hanya produk elite. Ia adalah produk konsensus. Ketika masyarakat memilih apatis. Ketika kita ikut duduk di tribun sirkus pembodohan demi kenyamanan sesaat.
Di titik itu, kita bukan lagi korban.
Kita kaki tangan.
Dan PETANI GILA tidak sedang mencoba membuat kamu nyaman dengan fakta itu.

“Deceiving The Soul”: Serangan ke Dalam
Salah satu track paling mengguncang, “Deceiving The Soul”, terasa manipulatif karena ia memang sengaja memelintir sisi terdalam kita.
Album ini tidak sekadar menyerang sistem di luar sana. Ia lebih brutal: membongkar perang batin. Kemunafikan paling berbahaya bukan saat kita berbohong pada orang lain — tapi saat kita berhasil menipu nurani sendiri agar tetap merasa “baik” di tengah tindakan yang merusak.
Serangan ini bukan eksternal.
Ini internal.
Dan itu jauh lebih mematikan.

Lone Wolf: Harga dari Sebuah Kesadaran
Kesadaran itu mahal. Kadang harus dibayar dengan kesendirian.
Track “Lone Wolf” merepresentasikan individu yang memilih melihat kebenaran pahit, sementara kerumunan lebih memilih hangatnya kebodohan kolektif. Dalam album ini, isolasi bukan bentuk pelarian.
Ia adalah bentuk perlawanan.
Menjadi sadar sering berarti berdiri sendirian. Dan PETANI GILA merayakan kesendirian itu sebagai sikap, bukan tragedi.

Devil Recreation: Saat Dosa Jadi Komoditas
Di era yang mereka sebut sebagai Devil Recreation, dosa bukan lagi sesuatu yang disesali.
Ia dipamerkan.
Dikemas.
Dirayakan.
Kita hidup di zaman di mana “suara dosa” lebih nyaring karena ia laku dijual. Kesalahan berubah menjadi estetika digital. Validasi sosial menggantikan refleksi moral.
Sindiran di album ini jelas: kita tidak lagi menanggung dosa — kita mengkurasi dan merayakannya bersama.

Agresif Karena Muak
Secara musikal, album ini adalah ledakan dari kelelahan yang menumpuk.
Ada kemarahan, tentu. Tapi yang lebih dominan adalah rasa muak. Muak melihat siklus yang sama terus berulang. Muak pada realita yang bebal.
Musik mereka terdengar seperti teriakan di depan tembok beton yang tak kunjung runtuh. Katarsis. Frustrasi. Perlawanan sonik.
Dan mereka tidak takut disalahpahami.
“Kami lebih memilih kejujuran yang kasar daripada propaganda yang rapi. Jika dianggap terlalu gelap atau provokatif, biarlah.”
Sikap itu bukan gimmick. Itu fondasi.
Setelah Rilis Digital, Tur Jawa Siap Mengguncang
Launching digital pada 22 Februari 2026 hanyalah awal.
Setelah Lebaran tahun ini, PETANI GILA bersiap membawa Dosa Kolektif keluar dari ruang streaming dan masuk ke ruang-ruang panas di berbagai kota di Jawa. Tur ini bukan sekadar panggung dan distorsi.
Ini tentang membawa gangguan ke ruang nyata.
Mereka tidak mencari sekadar tepuk tangan di skena metal. Mereka ingin mengganggu kenyamanan. Ingin membuktikan bahwa suara dari pinggiran bisa menciptakan frekuensi yang membuat mereka yang terlalu nyaman mulai gelisah.
Dan mungkin, dari kegelisahan itu, lahir kesadaran.
Album Dosa Kolektif sudah tersedia di seluruh platform digital.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Seberapa keras musiknya?”
Tapi:
Seberapa siap kamu bercermin?