Kalau lo pikir metalcore udah cukup brutal, coba bayangin musik keras digabung dengan suara suling, gamelan, dan kendang Jawa. Sounds crazy? Itu yang dilakuin Kalacakra, band metalcore asal Solo yang lagi rame dibahas di skena.
Nama mereka diambil dari bahasa Sanskerta: Kala artinya waktu, Cakra itu roda. Jadi secara harfiah berarti “siklus waktu”. Filosofinya simpel: hidup itu berputar, naik turun, dan Kalacakra pengen ngulik fase-fase itu lewat musik mereka.
Dari Panggung Festival sampai Viral TikTok
Salah satu track mereka, “Dursila”, sempat viral di TikTok. Bikin orang auto headbang pas breakdown-nya nongol. Padahal proses bikin lagunya lumayan chaos—cuma sebulan sebelum deadline, latihan full band cuma bisa sekali, dan langsung dibawain di panggung gede Festival Pager Desa 2024. Tapi justru di situ magisnya kerasa: energi gotong-royong bikin performance-nya pecah banget.

Metalcore + Macapat = Babad Macapat
Sekarang Kalacakra lagi fokus ngerjain album debut bertajuk “Babad Macapat”. Buat yang belum tahu, Macapat itu tembang Jawa klasik yang menceritakan siklus hidup manusia—dari lahir, jatuh cinta, sampai kematian. Nah, setiap lagu bakal nge-blend nuansa Macapat sesuai temanya, dengan metalcore. Jadi ada yang megah, ada yang kelam, ada juga yang penuh energi. Gamelan, suling, dan instrumen etnik lain bakal tetap jadi roh utama musik mereka.
Etnik Bukan Tempelan
Kalacakra menekankan kalau instrumen tradisional di musik mereka bukan sekadar gimmick. Mereka ngulik serius biar gamelan nggak tenggelam ditabrak gitar distortion. Caranya? Cut frekuensi metal biar instrumen Jawa bisa dapet ruang.

Dan menariknya, untuk menampilkan tembang Dursila di Festival Pager Desa, Kalacakra memilih tampil full live dengan personel dan perangkat gamelan asli. Buat mereka, nuansa hidup yang lahir dari gesekan, tabuhan, dan tiupan langsung itu ngasih “jiwa seutuhnya” ke musik. “Musik Jawa itu epic, bukan sekadar mistis atau tempelan,” kata mereka.
Pesan Buat Generasi Sekarang
Kalacakra pengen ngajak anak muda buat nggak jauh dari budaya sendiri. Karena menurut mereka, musik tradisi itu relevan banget kalau dibawa ke ranah modern. Dulu aja keroncong dan gamelan pernah dipakai buat nyemangatin rakyat di masa perang. Jadi, kenapa sekarang nggak bisa dipakai buat ngomongin keresahan zaman ini?

Kalau akhirnya orang nyebut Kalacakra pionir metalcore Jawa, mereka anggap itu bonus. Yang utama: musik jadi ruang eksperimen buat ngenalin budaya dengan cara baru. Dan lewat Kalacakra, budaya nggak lagi cuma jadi warisan—tapi bisa ikut moshing bareng lo di pit.