Empat tahun bukan waktu yang sebentar buat sebuah komunitas musik. Tapi buat Frontrowers, waktu justru bikin mereka makin kuat.
Komunitas yang berdiri sejak 19 September 2021 ini baru aja ngerayain ulang tahun ke-4-nya dengan tema khas mereka: “Anywhere, Anytime, Anyplace.”

Acara ini bukan sekadar gigs — tapi ajang temu kangen para pencinta musik keras lintas generasi. Semua datang tanpa tiket, tanpa batas. “Kita dari dulu emang pengennya acara bebas aja, free entry. Yang penting kumpul dan silaturahmi,” kata Bang Edy, salah satu pendiri Frontrowers.
✊ Dari Nongkrong Jadi Keluarga Musik
Frontrowers awalnya cuma kumpulan temen yang sering nongkrong bareng dan nonton konser. Lama-lama, karena sering saling dukung di gigs, mereka pun ngebentuk paguyuban pecinta musik keras yang akhirnya dikenal dengan nama Frontrowers.

“Kalau dibilang komunitas, terlalu luas. Kita lebih ke paguyuban,” jelas Bang Aulia, co-founder Frontrowers. “Isinya macem-macem, ada yang main di band, ada juga yang emang suka nonton. Tapi semuanya satu: sama-sama cinta musik.”
Menariknya, banyak band yang anggotanya berasal dari Frontrowers, seperti Black Pumpkins, Sugarcoma, Nirvana, sampai The Last Drive.
“Jadi tiap bikin acara, yang main juga temen sendiri. Keluarga semua,” tambah Edy sambil ketawa kecil.
🔥 Anywhere, Anytime, Anyplace
Tema “Anywhere, Anytime, Anyplace” jadi semacam mantra buat mereka. Artinya simpel: di mana pun, kapan pun, selalu siap hadir buat musik.
“Kalau ada konser atau acara, pasti ada aja yang dateng mewakili. Kadang saya hadir di sini, yang lain di acara lain. Pokoknya, selalu ada yang nongol dari Frontrowers,” ujar Aulia.

Di perayaan kali ini, Frontrowers menampilkan 8 band pilihan — semua dari lingkar keluarga besar mereka. “Kalau 12 band kayak event lain tuh kebanyakan, nanti mainnya cuma tiga lagu. Kita maunya band dapet waktu yang cukup, maksimal 30 menit,” kata Edy.
Tanpa Drama, Tanpa Target, Cuma Musik
Menariknya lagi, Frontrowers nggak pernah ngebebanin diri dengan target atau ekspektasi tinggi. Mereka cuma pengen tetep ngumpul dan nikmatin musik bareng.
“Kita ngalir aja. Gak ada target besar, yang penting tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin,” ucap Edy santai.
Sementara Aulia nambahin, “Musik tuh cuma jembatan. Tujuan utama kita itu silaturahmi, mempererat pertemanan.”

Dan satu hal yang pasti: meskipun mereka terbuka buat semua genre, dangdut masih jadi batas lucu mereka. “Ngobrol soal dangdut boleh, tapi kalo ngundang band dangdut ya kayaknya nggak deh,” canda Edy.
Komunitas Tanpa Tiket, Tapi Penuh Support
Frontrowers punya satu prinsip: “Support itu datang, beli kaos, dan nonton bareng.”
Mereka nggak pernah pasang tiket masuk di acaranya. Dana acara murni dari urunan anggota yang jumlahnya sekitar 35 orang aktif.

“Kalau mau gabung, gampang banget. Tinggal kontak Eki, beli kaos Frontrowers, udah resmi jadi bagian keluarga,” kata Aulia.
Buat mereka, musik bukan sekadar hobi. Ini soal persaudaraan, solidaritas, dan energi yang nggak bisa dibeli.
Closing
Ulang tahun ke-4 Frontrowers jadi bukti kalau semangat musik keras di Jakarta belum mati — cuma berevolusi jadi lebih dewasa, lebih hangat, dan lebih tulus.
Anywhere, Anytime, Anyplace.
Selama masih ada distorsi dan solidaritas, Frontrowers akan selalu ada di barisan depan.